Jumat, 21 Maret 2014

Makna Tumpek Landep


Tumpek Landep adalah hari suci Hindu yang didasarkan pada pertemuan wawaran dan pawukon dalam sistem kalender Jawa-Bali, yakni Saniscara Kliwon (Sabtu Kliwon) wuku Landep. Kata landep berarti tajam atau merupakan wuku ke-2 dalam sistem pawukon. Bagi umat Hindu, hari ini diyakini menjadi otonan atau selamatan bagi semua senjata tajam, alat perang, peralatan dari besi, dan sebagainya. upacara Tumpek Landep tepat dimaknai sebagai
pemujaan kepada Sanghyang Paƛupati untuk mendapatkan anugerah berupa tuah (kekuatan/sakti) bagi senjata tajam atau alat-alat perang dan peralatan kehidupan manusia khususnya yang terbuat dari logam serta memohon kepada Ida Sang Hyang Pasupati agar benda-benda tersebut betul-betul dapat berguna bagi kehidupan manusia.

Pada kenyataannya pelaksanaan upacara Tumpek Landep telah mengalami perubahan dalam pelaksanaannya sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Kata ”landep” yang berarti tajam menunjuk pada alat-alat kehidupan yang telah digunakan manusia sejak dahulu kala. Pada zaman berburu sudah dikenal beberapa senjata tajam yang terbuat dari batu atau logam untuk tujuan perburuan. Kemudian, pada masa bercocok tanam juga muncul peralatan-peralatan untuk bertani seperti, cangkul, sabit, dan sebagainya. Upacara ini semakin mendapatkan signifikansinya pada zaman kerajaan sehingga senjata tajam dan peralatan perang (landeping prang) menjadi objek utama dalam pelaksanaan Tumpek Landep. Akan tetapi, sekarang ini momentum Tumpek Landep digunakan umat Hindu untuk mengupacarai peralatan besi hasil teknologi modern seperti, mobil, sepeda motor, dan komputer dan lain sebagainya. Ini menandakan telah terjadinya pergeseran dalam pelaksanaan Tumpek Landep dalam masyarakat Hindu. Namun pergeseran itu terjadi pada tataran fisik, bukan pada substansi maknanya. Upacara ini merupakan wujud bhakti dan karma umat Hindu, baik sebagai sarana pemujaan, ucapan terima kasih, sekaligus permohonan kepada Hyang Widhi atas anugerah berupa peralatan dari besi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Sementara dalam kaitan dengan buana alit (diri manusia), Tumpek Landep itu sesungguhnya momentum untuk selalu menajamkan pikiran (landeping idep), menajamkan perkataan (landeping wak) dan menajamkan perbuatan (landeping kaya). Ketiga unsur Tri Kaya Parisuda tersebut perlu lebih dipertajam agar berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Buah pikiran perlu dipertajam untuk kepentingan umat manusia, demikian pula perbuatan dan perkataan yang dapat menentramkan pikiran dan batin orang lain.
Lewat perayaan Tumpek Landep itu umat diingatkan agar selalu menggunakan pikiran yang tajam sebagai tali kendali kehidupan. Misalnya, ketika umat memerlukan sarana untuk memudahkan hidup, seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, pikiran yang tajam itu mesti dijadikan kendali. Keinginan mesti mampu dikendalikan oleh pikiran. Dengan demikian keinginan memiliki benda-benda itu tidak berdasarkan atas gengsi, tetapi betul-betul berfungsi untuk menguatkan hidup sehingga betul-betul tepat guna. Rerahinan Tumpek Landep inilah sesungguhnya momen bagi kita untuk lebih menajamkan pikiran agar menjadi lebih cerdas, lebih jernih , lebih tepat untuk melakukan analisa serta menentukan keputusan agar tercapai kebahagian hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar