Kamis, 24 April 2014

Pemahaman Tentang Tuhan dalam Konsep Politheisme, Monotheisme dan Pantheisme


Sesungguhnya, setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini, bertitik tolak kepada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak hal yang mendorong kita harus percaya terhadap adanya Tuhan itu dan berlaku secara alami. Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban di dunia ini, menyebabkan kepercayaan itu
semakin mantap. Semuanya itu pasti ada sebab- akibatnya, dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhanlah yang mengatur semuanya ini, Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala yang ada.

Kendati kita tidak boleh cepat-cepat percaya kepada sesuatu, namun percaya itu penting dalam kehidupan ini. Banyak sekali kegiatan yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah berdasarkan kepercayaan saja. Setiap hari kita mneyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Demikian pula adanya bulan dan bintang yang hadir di langit dengan teratur. Belum lagi oleh adanya berbagai mahluk hidup dan hal-hal lain yang dapat menjadikan kita semakin tertegun menyaksikannya. Adanya pergantian siang menjadi malam, adanya kelahiran, usia tua, dan kematian, semuanya ini mengantarkan kita harus percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber dari segala yang terjadi di alam semesta ini.

Prof. Dr. Mukti Ali, guru besar ilmu perbandingan agama pada Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang pernah menjadi Menteri Agama mengatakan pemahaman atau konsep tentang Tuhan itu merupakan evolusi. Artinya pemahaman manusia tentang Tuhan adalah suatu proses yang berkembang. Menurut Mukti Ali siklus perkembangan konsep ketuhanan itu mulai dari politheisme lalu monotheisme kemudian pantheisme, dan ada kemungkinan dari pantheisme kembali lagi ke politheisme demikian seterusnya.

Apakah Politheisme, Monotheisme dan Pantheisme?

Politheisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu banyak. Setiap bagian atau unsur alam dan kehindupan manusia memiliki "penguasanya" sendiri. Monotheisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu hanya satu. Tuhan ini memiliki bentuk dan sifat seperti manusia dan berdiam diri jauh di luar alam semesta. Pantheisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu satu tapi tidak dapat digambarkan bentuknya. Dan dia meliputi seluruh ciptaannya. Seperti satu sendok garam dalam segelas air. Garam tidak kelihatan karena larut dalam air. Tapi seluruh air dalam gelas itu akan terasa garam. Dalam agama Hindu hakikat Tuhan seperti ini disebut "Wyapi Wyapaka". Dalam Agama Islam disebut "Wihdatul Wujud"

Bagimana Perkembangan itu terjadi?

Menurut pandangan orang barat perkembangan monotheisme adalah sebagai berikut: Mula-mula ada banyak dewa-dewa. Setelah melalui pergulatan yang panjang dan berdarah, satu dari antara dewa-dewa itu muncul sebagai pemenang. Dewa yang menang ini menjadi Tuhan. Dewa-dewa lain yang kalah terbagi menjadi dua. Yang mau tunduk kepada Sang Pemenang menjadi malaikat. Yang tidak mau tunduk atau memberontak kepada Sang Pemenang menjadi Setan.

YAHWEH
Tuhan agama Yahudi disebut Yahweh. Pada mulanya Yahweh adalah ajudan dewa perang yang sangat buas. Yahweh bukanlah dewa asli orang Yahudi. Ia berasal dari suku bangsa Midian dan oleh Moses dimasukkan dalam jajaran dewa-dewa orang Yahudi. Hampir lima abad lamanya Yahweh hanya mendapat kedudukan yang tidak penting. Selama lima abad itu Yahweh pernah digabung atau dikawinkan dengan dewa atau dewi Yahudi yang lain. Setelah bergulat selama lima ratus tahun, akhirnya Yahweh dapat mengalahkan dewa-dewa lain dan menjadi Dewa Tertinggi atau Tuhan satu-satunya.

Dari hanya ajudan dewa perang menjadi Tuhan satu-satunya, Yahweh telah melakukan perjuangan keras. Artinya para pengikut Yahweh telah melakukan pengucilan, pengusiran dan pembunuhan terhadap pengikut-pengikut dewa-dewa Yahudi lainnya. Dan pembakaran terhadap kuil-kuil dewa-dewa lainnya. Monotheisme Yahudi memang ditegakkan melalui jalan berdarah. Sekalipun agama Yahudi telah menetapkan Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan, tapi Torah, kitab suci mereka masih mempercayai banyak dewa. 

TRINITAS
Agama Kristen pada mulanya hanyalah satu sekte kecil dari agama Yahudi. Yesus Kristus, pendiri agama Kristen pada mulanya adalah seorang guru agama yang mengajar secara berkeliling sambil memberikan pengobatan kepada orang-orang Yahudi. Karena Yesus banyak mengeritik praktek-praktek agama Yahudi pada jamannya, maka para pemuka Yahudi bekerjasama dengan penguasa Romawi yang menjajah negeri Israel, bersekongkol untuk menghukum mati Yesus dikayu salib. Ajaran-ajaran Yesus dianggap bida'ah, atau sesat.

Berkat kegigihan para murid Yesus, sekte kecil yang bergerak secara tersembunyi ini kemudian berkembang menjasi agama tersendiri, yaitu agama Kristen. Para pemeluk agama baru ini enggan mengakui Yahweh sebagai Tuhan mereka. Mereka menetapkan konsep ketuhanannya sendiri, yang disebut Trinitas, yaitu Roh Kudus, Tuhan Bapa dan Tuhan Anak yaitu Yesus. Penetapan konsep Trinitas ini dilakukan dalam beberapa kali musyawarah antara para pemuka gereja yang berbeda pendapat. Setelah melalui proses panjang, hampir 450 tahun, konsep Trinitas ini disepakati.

ALLAH
Setelah berabad-abad lamanya orang Yahudi menganut monotheisme (mengakui Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan), dan hampir 200 tahun setelah agama Kristen mantap dengan konsep Trinitasnya, bangsa Arab masih menyembah banyak dewa. Di antara dewa-dewa Arab itu yang banyak dipuja adalah Al-Lah, dewa kemakmuran, disebut juga dewa air karena dipercaya memberi hujan dan air bagi bagi orang-orang Arab. Dewa-dewa Arab yang lain adalah Al-Rahman (pengasih), Al-Rahim (selamanya pengasih), Al Malik (raja), Dewi-dewi Arab adalah Anat, Maniat dan Ujja. Mereka bertiga adalah putri Al-Lah.

Pada abad 6 M, Mohammad - menurut keyakinan Islam, karena perintah Allah - mengajak orang-orang Arab hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Tapi ajakan ini tidak diterima oleh mayoritas orang Arab, terutama suku Quraish. Setelah melalui perjuangan keras, antara lain dengan konflik- konflik bersenjata antara pengikut dan penentang Mohammad, akhirnya pengikut Mohammad menang. Dan Allah diakui sebagai satu-satunya Tuhan oleh seluruh bangsa Arab. Demikianlah dari jasirah Arab ini agama Islam berkembang. Dan Islam menganut monotheisme yang sangat ketat. Tiada Tuhan selain Allah, demikian keyakinan Islam.

Namun Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama (Asma'ul Husna). Nama-nama itu, disamping Allah antara lain Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Malik, yang artinya sama dengan nama dewa-dewa di atas. Allah juga bernama Al-Haqq (Kebenaran), Al Qahtar (yang mendominasi dan mematahkan punggung musuh-musuhNya), Al-Muntaqinu (yang memberi siksaan), Assaburru (yang maha penyabar). Prinsip Ketuhanan dalam agama Islam disebut Tawhid yang secara harfiah berarti "menyatukan" atau "Mengesakan" atau "mempersatukan".

Kalau diperhatikan monotheisme berarti bahwa suatu agama percaya kepada satu Tuhan. Dan Tuhan dari masing-masing agama itu berbeda baik asal-usul maupun sifat-sifatnya.
Tuhan itu ibarat sinar matahari yang ditangkap mata manusia melalui prisma.Warna sinar itu bisa berbeda antara prisma yang satu dengan prisma yang lain. Tepat apa yang dikatakan Kitab Suci Weda bahwa Tuhan itu hanya satu, tapi orang-orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama.

Apakah Tuhan itu memang merupakan perkembangan atau berasal dari dewa atau merupakan gabungan dari beberapa dewa?
Tuhan itu abadi. Tuhan tidak pernah berobah. Pikiran dan pemahaman manusia tentang hakikat Tuhan yang berkembang.

Bagimana pandangan agama Hindu mengenai hakikat Tuhan?

Agama Hindu sudah ada sebelum terbentuknya agama Yahudi. Dan agama Hindu tetap hidup sampai sekarang. Diantara agama-agama yang masih hidup dewasa ini agama Hindu adalah agama yang pertama yang mengajarkan manusia untuk mengenal Tuhan. Rentangan sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu juga telah melewati semua paham-paham ketuhanan yang pernah ada.

Weda-weda tampak seperti mengikuti politheisme. Dalam keempat Weda kita jumpai banyak nama-nama Tuhan seperti Indra, Wayu, Siwa, Rudra, Yama, Brahma dan masih banyak lagi. Kalau dalam agama Islam Tuhan memiliki 99 nama, dalam agama Hindu Tuhan diberikan lebih banyak nama lagi.

Tapi Weda juga mengatakan "Ekam sat wipra bahudha wadanti"' yang artinya "hanya terdapat satu kebenaran yang mutlak (Tuhan). Para bijaksana menyebutnya dengan berbagai-bagai nama" . Dalam Upanishad disebutkan "Ekam ewa adwityam Brahman", artinya hanya ada satu Tuhan (Brahman) tidak ada yang kedua.

Bagawad Gita jelas bersifat monotheisme. Dalam Bagawad Gita Tuhan digambarkan memiliki bentuk dan sifat seperti manusia, dalam wujud Krisnha. Sang Hyang Widhi adalah monoteisme asli Indonesia. Kitab-kitab Upanishad menganut pandangan Pantheistik, Tuhan itu Esa, melingkupi alam semesta.

Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)
Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada. 


Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua mahluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua mahluk, hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.

Yo nilayam carati yah pratamkam
dvatu samnisadya yanmantrayete
raja tad veda varunas trtiyah (A.W. IV.16.2)

Siapapun berdiri, berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapaun yang membaringkan diri atau bangun, apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta), ia adalah uyang ketiga hadir di sana.
Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.
Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan (Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpancaindra (nirindryam), tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya.

ya etam devam ekavrtam veda
na dwitya na trtiyas cateutho napyucyate,
na pancamo  na sasthah saptamo napyucyate,
nasthamo na navamo dasamo napyucyate,
sa sarvasmai vi pasyati vacca pranati yacca na,
tam idam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva,
sarve asmin deva ekavrto bhavanti. (A.V.XIII.4)

Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat Ia dipanggil. Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, Ia dipanggil. Tidak ada yang kedelapan, kesembilan Ia dipanggil. Ia melihat segala apa yang bernafas dan apa yang tidak bernafas. Kepada-Nya-lah tenaga penakluk kembali. Ia hanya tunggal belaka. Padanya semua dewa hanya satu saja.

Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.

"Ekam eva advityam Brahma" (Ch.U.IV.2.1)
Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

"Eko Narayanad na dvityo "Sti kaccit" (Weda Sanggraha)
Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.

"Bhineka Tungal Ika, tan hana Darma mangrwa" (Lontar Sutasoma)
Berbeda-beda tetapi satu tidak ada Dharma yang dua.

"Idam mitram Varunam
agnim ahur atho
divyah sa suparno garutman
Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim
yamam matarisvanam ahuh. (R.W.I. 1964.46)

Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Itu (Tuhan), sang bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama Matarisvam.

Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

Diantara paham Ketuhanan itu manakah yang paling baik?

Semua paham itu memiliki kelebihnan dan kekurangannya masing-masing. Kenapa? Karena hakikat Tuhan itu tidak terbatas. Sedangkan manusia sangat terbatas. Bagaimana suatu yang terbatas dapat mengetahui sepenuhnya Yang Tidak Terbatas. Definisi-definisi yang dibuat manusia tentang Tuhan, ibarat suatu usaha untuk mengukur alam semesta dengan seutas tali yang panjangnya 2 meter. Definisi-definisi itu jauh dari sempurna. Misteri Tuhan tidak akan pernah dapat disingkapkan oleh siapapun.

Ada yang mengatakan monotheismelah yang paling sempurna?

Tidak ada satupun definisi tentang Tuhan yang diterima secara mutlak oleh semua pemeluk agama. Bahkan dewasa ini sudah banyak orang berpendapat bahwa monotheisme itu sudah usang. Monotheisme dianggap tidak menghargai alam. Monotheisme dituduh memberi dasar bagi eksploitasi alam oleh manusia. Monotheisme juga dianggap menimbulkan fanatisme yang mematikan, tidak mau mengakui keberadaan agama-agama lain. Sekarang banyak orang mengharapkan agar manusia kembali ke pantheisme yang lebih menghargai alam serta menghormati kemajemukan. Agama-agama pantheistik diakui sangat toleran terhadap agama-agama lain. Namun dikalangan penganut monotheisme pun sekarang mulai timbul kesadaran bahwa tidak mungkin satu agama memonopoli semua kebenaran, bahwa adanya berbagai-bagai agama adalah kehendak Tuhan.

Sebagai orang biasa pandangan mana yang harus diikuti.
Mahatma Gandhi memberikan kita pedoman yang baik sekali:"Nama-nama itu adalah sebutan deskriptif dari Tuhan yang Esa. Para pujangga keagamaan telah memberi persemayaman lokal maupun nama pada atribut Tuhan yang tidak terhitung jumlahnya. Dan hal ini tidak ada salahnya karena ia tidak disalahartikan oleh pemujanya maupun pihak lain. Bila manusia memuja Tuhan dia kan membayangkannya menurut kecenderungannya sendiri. Nahkan bila kita berdoa kepada Tuhan yang sama sekali tanpa bentuk maupun atribut sesungguhnya kita sudah memberikannya sifat-sifat.
Maka secara hakiki Tuhan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kita manusia terpaksa bergantung kepada imajinasi yang meluhurkan ataupun kadang-kadang merendahkan diri kita. Sifat-sifat yang kita berikan kepada Tuhan dengan Prayojana semurni-murninya adalah benar bagi kita tapi pada hakikatnya salah. Sebab setiap usaha untuk menggambarkan Tuhan pasti akan menemukan kekagalan.

Sebagai orang biasa kita ingin memiliki hubungan dengan Tuhan yang melihat dan mendengarkan kita. Tuhan, kepada siapa kita mengajukan pertanyaan, menyampaikan keluhan dan doa kita. Tuhan yang membimbing dan melindungi kita. Dalam hati, kita menggambarkan Tuhan yang memiliki sifat-sifat dan bentuk.

Ada orang-orang yang percaya bahwa kelompok mereka memiliki hubungan khusus dengan Tuhan. Dan bersamaan dengan itu mereka menganggap Tuhan telah meninggalkan kelompok lainnya. Benarkah pandangan ini?

Setiap orang memang harus percaya bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan Tuhan, dalam arti ia merasa dekat dengan Tuhan. Tapi ia sama sekali tidak boleh merasa atau mengatakan bahwa ia atau mereka telah memonopoli Tuhan. Kedekatan kita dengan Tuhan tidak memberi hak kepada kita untuk mengasingkan Tuhan dari orang lain. Tuhan tidak pernah mengikatkan dirinya hanya pada satu kelompok orang, baik berdasarkan suku maupun agama.

Demikian pula halnya dengan kelompok. Orang Yahudi merasa memiliki hubungan khusus dengan Yahweh. Orang Kristen dengan Yesus. Orang Islam dengan Allah. Orang Budha dengan Sang Budha. Orang Hindu dengan Sang Hyang Widhi. Tapi hubungan khusus dengan Yahweh tidak boleh membuat orang Yahudi mengatakan Yesus atau Allah bukan Tuhan. Hubungan khusus dengan Sang Hyang Widhi tidak memberi hak kepada orang Hindu untuk mengatakan bahwa Allah dan Yesus tuhan palsu. Bagi orang Hindu nama-nama itu semua merujuk kepada hakikat yang satu: Tuhan.Yesus oleh orang Kristen disebut Terang Dunia, Allah disebut Nur.

Dalam Upanishad Tuhan diandaikan bagaikan angin yang mengambil bentuknya dalam setiap benda yang dimasukinya, bagaikan api yang mengambil bentuk dalam setiap benda yang terbakar. Tuhan juga disebut sebagai matahari pemberi kehidupan. Bahkan sinarNya melebihi terang cahaya matahari: "Disana matahari tidak bersinar, bulan tidak bersinar, tidak juga bintang-bintang; kilat tidak bercahaya apalagi bumi. Dari SinarNya semua (benda-benda angkasa) ini dapat memantulkan cahaya, dan sinarNya menerangi seluruh ciptaan".

Siapa yang dapat memonopoli api? Siapa yang dapat memonopoli angin? siapa yang dapat memonopoli matahari? Apakah api hanya memberi panasnya pada satu kelompok orang? Apakah matahari hanya memberikan cahayanya kepada satu kelompok orang? Apakah angin hanya berembus ke satu kelompok orang?

Api, angin dan Matahari hanyalah ciptaanNya. Lalu siapa yang dapat memaksa Dia untuk memihak? Bila ada orang atau kelompok orang yang mencoba melakukan hal tersebut maka mereka sesungguhnya hanya membuat lelucon yang menyedihkan.

Berkatalah seekor laron sambil memandang bulan purnama: "Hai pungguk yang tak beriman, betapa gelapnya jiwamu, karena seluruh cahaya bulan yang indah itu, kini telah menjadi milikku!".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar