Minggu, 03 Agustus 2014

Kisah Hanoman





Kelahiran Hanoman
Hanoman  adalah salah satu dewa dalam
kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan
merupakan
putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan
Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya
memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya
tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga
menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa
pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya

Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara
wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama
Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai
wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan
seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan
Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan
tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka.
Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan
Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai
Hanoman.

Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa,
di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk
memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk
dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama,
Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung
merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan
dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan
makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan
tersebut, lalu lahirlah Hanoman.


Salah satu versi mengatakan bahwa Hanoman lahir secara tidak sengaja
karena hubungan antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu
hari, Dewa Bayu melihat kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya.
Anjani marah karena merasa dilecehkan. Namun Dewa Bayu menjawab bahwa
Anjani tidak akan ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani bukan
di badannya, namun di dalam hatinya. Bayu juga berkata bahwa kelak
Anjani akan melahirkan seorang putera yang kekuatannya setara dengan
Bayu dan paling cerdas di antara para wanara.

Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan
"Aanjanèya"), yang secara harfiah berarti "lahir dari Anjani" atau
"putera Anjani".

Masa kecil Hanoman




Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang
bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa
Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari.
Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman
sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu,
Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua
makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar
menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan
Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra
memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta
kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu,
Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Ciranjiwin.

Pertemuan dengan Rama(Awatara Wisnu)



Pada saat melihat Rama dan Laksmana datang ke Kiskenda, Sugriwa merasa
cemas. Ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim
untuk membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa memanggil prajurit
andalannya, Hanoman, untuk menyelidiki maksud kedatangan dua orang
tersebut. Hanoman menerima tugas tersebut kemudian ia menyamar menjadi
brahmana dan mendekati Rama dan Laksmana.

Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Hanoman merasakan ketenangan.
Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu.
Rama dan Laksmana juga terkesan dengan etika Hanoman. Kemudian mereka
bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya
masing-masing. Rama juga menceritakan keinginannya untuk menemui
Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rama dan Laksmana, Hanoman
kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui
Sugriwa.

Petualangan mencari Sita




Dalam misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus pasukan
wanara-nya agar pergi ke seluruh pelosok bumi untuk mencari
tanda-tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau
mampu. Pasukan wanara yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Hanoman,
Anggada, Nila, Jembawan, dan lain-lain. Mereka menempuh perjalanan
berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan
menemukan kota yang berdiri megah di dalamnya. Atas keterangan
Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek
Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu
Hanoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada
Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanoman dan wanara
lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.

Di pantai tersebut, Hanoman dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati,
burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai
tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia
mendengar percakapan para wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu,
Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan
kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang
lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para
wanara tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang teretak di
Kerajaan Alengka. Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa
bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima
keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di
Alengka.

Pergi ke Alengka


Karena bujukan para wanara, Hanoman teringat akan kekuatannya dan
terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia
menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan
mencari-cari Sita. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang
kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya
menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada
Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk
dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan
mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia
tidak melihat Sita yang sedang merana. Setelah mengamati ke
sana-kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya.
Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang
diyakininya sebagai Sita.

Kemudian Hanoman melihat Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana gagal
dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Hanoman menghampiri Sita
dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita curiga, namun
kecurigaan Sita hilang saat Hanoman menyerahkan cincin milik Rama.
Hanoman juga menjanjikan bantuan akan segera tiba. Hanoman menyarankan
agar Sita terbang bersamanya ke hadapan Rama, namun Sita menolak. Ia
mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka
untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanoman mohon restu dan pamit
dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka
di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit
pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat
ditangkap Indrajit putra sulung Rahwana sekaligus putra mahkota
Kerajaan Alengka dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit
tubuh hanoman. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara
raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa
karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanoman kapan saja, namun Hanoman
belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat.

Terbakarnya Alengka

Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanoman, Wibisana
adik kandung Rahwana membela Hanoman agar hukumannya diringankan,
mengingat Hanoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan
hukuman agar ekor Hanoman dibakar. Melihat hal itu, Sita berdo'a agar
api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Karena do'a Sita kepada
Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Lalu
ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya.
Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota
Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar,
ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga
memuji keberanian Hanoman dan berkata bahwa selain kediaman Sita, kota
Alengka dilalap api.

Dengan membawa kabar gembira, Hanoman menghadap Rama dan menceritakan
keadaan Sita. Setelah itu, Rama menyiapkan pasukan wanara untuk
menggempur Alengka

Pertempuran besar melawan Rahwana dan Pasukan Raksasa



Hanoman diperankan dalam Yakshagana, drama populer dari Karnataka.
Dalam pertempuran besar antara Rama dan Rahwana, Hanoman membasmi
banyak tentara rakshasa. Saat Rama, Laksmana, dan bala tentaranya yang
lain terjerat oleh senjata Nagapasa yang sakti, Hanoman pergi ke
Himalaya atas saran Jembawan untuk menemukan tanaman obat. Karena
tidak tahu persis bagaimana ciri-ciri pohon yang dimaksud, Hanoman
memotong gunung tersebut dan membawa potongannya ke hadapan Rama.
Setelah Rama dan prajuritnya pulih kembali, Hanoman melanjutkan
pertarungan dan membasmi banyak pasukan rakshasa.
Setelah pertempuran besar melawan Rahwana berakhir, Rama hendak
memberikan hadiah untuk Hanoman. Namun Hanoman menolak karena ia hanya
ingin agar Sri Rama bersemayam di dalam hatinya. Rama mengerti maksud
Hanoman dan bersemayam secara rohaniah dalam jasmaninya. Akhirnya
Hanoman pergi bermeditasi di puncak gunung mendo'akan keselamatan
dunia.


3 komentar: